Berhasilkah Puasa Kita?

Oleh Drs. KH. Farid Ma’ruf Nur

Dalam Kuliah Dzuhur di Darul Ihsan, 11 Oktober 2010

Etape pengabdian kita kepada Allah Swt melalui ramadhan dan idul fitri sebulan yang lalu alhamdulillah telah lulus kita jalani, sekarang ini bukan hanya pakaian kita yang baru dan bersih, namun insya allah hati dan ruhaniah kita menjadi baru, suci dan semerbak lantaran pancaran taqwa dan kesucian diri yang kita raih melalui ibadah shaum ramadhan beserta idul fitri.

Dengan selesainya kita melaksanakan ibadah shaum, saat ini kita telah memasuki babak baru dalam kehidupan baru untuk kembali mempersiapkan etape-etape peribadatan selanjutnya dan tugas-tugas kehidupan lainnya.

Di depan kita terbentang luas medan untuk membangun belantara dunia dan umat manusia yang penuh dengan keanekaragaman dan berbagai corak dengan berbagaim macam situasi dan tantangannya.

Untuk itu dalam suasana jiwa kita yang masih fitrah kemanusiaan hakiki yaitu fitrah yang sesuai konsep dasar manusia, dimana manusia diciptakan Allah Swt memiliki fitrah yang hanif yang lurus pada tauhid dan penyerahan diri, karena itu mari kita berbenah diri dengan senantiasa memantapkan iman serta memperbaharui semangat pengabdian. Mari kita tingkatkan intensitas ibadah serta kualitas ibadah kita baik yang nafsiyah maupun yang ijtimaiyah agar apa yang menjadi tujuan ibadah ramadhan yaitu tercapainya ketaqwaan kepada Allah Swt benar-benar dapat kita miliki.

Setiap denyut peribadatan yang bersifat ritual dalam Islam itu senantiasa memiliki fungsi-fungsi khusus dan hikmat-hikmat tertentu yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, baik dalam kehidupan dimensi nafsiyah maupun dalam dimensi ijtimaiyah (sosial kemasyarakatan), dan tidak halnya dengan puasa ramadhan yang baru saja kita jalani, lebih-lebih ibadah shaum ini adalah ibadah yang teramat istimewa karena dilakukan dengan seluruh ekspresi manusia secara utuh dengan jalan melatih ruhani dan jasmani kemudian menyucikan sekaligus membebaskannya, melebur nafsu dan syahwat untuk menciptakan manusia yang sempurna yaitu lilmuttaqin, manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt.

Karena itu untuk mengukur keberhasilan ibadah shaum ramadhan yang baru saja kita jalani bukan hanya dilihat pada waktu puasanya saja, tapi bagaimana prilaku kita setelah selesai melaksanakan puasa ini apakah ada perubahan signifikan dalam peningkatan kualitas ketaqwaan kepada Allah atau sama saja sebelum dan sesudah puasa itu begitu-begitu saja. Karena itu apa yang sering saya sampaikan dalam setiap kesempatan, ada satu atau dua kemungkinan puasa yang tiap tahun kita jalani itu hasilnya adalah sebagai berikut:

Kemungkinan yang pertama, puasa kita berhasil, mengantarkan diri kita untuk mencapai ketaqwaan kepada Allah Swt, yang ditandai selesai puasa itu iman kita semakin mantap, amal ibadah kita semakin meningkat baik intensitasnya maupun kualitasnya, begitu pula daya guna dan dinamika kerja, semangat pengabdian kita untuk membangun kehidupan bermasyarakat dan bangsa lebih hebat dibandingkan sebelum kita melaksanakan puasa. Puasa yang berhasil mengantarkan dalam pencapaian tujuannya, kalau dalam dunia binatang itu tidak ada bedanya seperti puasanya ulat sutra, jadi ibadah puasa ini bukan hanya peribadatan yang bersifat universal karena dilakukan oleh semua penganut beragama di seluruh dunia ini, tapi juga kosmopolitis lantaran dilakukan oleh makhluk selain manusia, contohnya ulat sutra, binatang kecil yang menjijikan, tidak simpatik dan merugikan, tapi ulat suka berpuasa untuk perubahan wujud atau metamorfosa. Jika ulat berpuasa ia berkontemplasi, dia mengucilkan diri dari lingkungannya, menghentikan aktivitasnya dan membungkus badannya dengan sementara waktu. Setelah cukup puasanya, dia buka dari puasanya itu, maka berubahlah tampilannya menjadi makhluk baru yaitu kupu-kupu yang indah dan sedap di pandang mata. Setelah jadi kupu-kupu ternyata ulat itu menguntungkan karena membantu para petani dalam penyerbukan tanaman, bahkan kepompong bekas kontemplasi ulat memberikan keuntungan material kepada manusia menjadi bahan baku pakaian sutra yang mahal harganya, masa kita kalah sama ulat?

Dan puasa semacam ini hanya akan kita dapat apabila kita jalani dengan keimanan, keikhlasan dan kesungguhan dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam, diistilahkan oleh Rasulullah Saw dengan imanan wahtisaban, manshouma romadhona imanan wahtisaban ghufirolahu mataqoddama mindzambih, barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dasarnya panggilan iman, kesadaran iman, tuntunan iman bukan melalui pertimbangan-pertimbangan lain, karena masih banyak umat islam di negeri ini yang mayoritas melaksanakan puasa bukan karena iman tapi karena pertimbangan tradisi dan kebiasaan, karena sejak dilahirkan nenek moyang di kota Bandung sudah diwariskan setiap bulan ramadhan berpuasa walaupun dalam pengertian hanya ikut-ikutan, maka puasa itu disebut puasa adat yang tidak memberikan makna apa-apa. Dan bukan pula karena pertimbangan pergaulan kemasyarakatan, karena hidup di lingkungan warga masjid Telkom yang nyantri, akhirnya malu sendiri kalau tidak ikut puasa maka dia ikut-ikutan puasa, ini disebut puasa gaul. Dan bukan pula karena pertimbangan kesehatan karena puasa ini erat kaitannya dengan memelihara kesehatan fisik dan psikis. Orang yang akan menjalani check-up kesehatan malam harinya tidak makan dan minum, besok paginya urinenya diperiksa di laboratorium, itu namanya puasa kesehatan. Bahkan sekarang lagi ngetren di kalangan kaum ibu, baik muslim maupun non muslim dalam upaya merampingkan pinggangnya agar langsing bagaikan langseng. Dan bukan pula karena pertimbangan politik, karena ternyata di era reformasi puasa ini pun bisa dijadikan alat politik yang cukup efektif, beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada do’a politik yaitu acara do’a dengan mengundang kiyai dan santri untuk mendoakan pejabat korup agar tidak terjerat oleh KPK. Dan bukan pula karena pertimbangan puasa politik yaitu puasa unjuk rasa dan mogok makan sebagai protes daripada ketidak adilan, bukan itu kata nabi tapi imanan wahtisaban, iman dasarnya dan melalui pemahaman, penghayatan yang mendalam baik dari segi formalnya maupun esensinya yang melahirkan keikhlasan dan kenikmatan pada saatnya.

Selesai puasa itu “ghufirolahu mataqoddama mindzambih”, diampuni Allah segala dosanya yang telah lalu. Sehingga 1 syawal kemarin itu kita benar-benar idul fitri, bahkan nabi mengatakan bersihnya dosa seorang mukmin melalui ibadah shaum bagaikan bayi yang baru lahir.

Kemudian yang kedua, puasa yang kita jalani setiap tahun ini bisa jadi gagal total, hatinya sebelum dan sesudah puasa itu sama saja, tidak ada perubahan apa-apa, setelah puasa itu pelitnya gak berubah, malasnya tetap, emosionalnya tetap, korupnya tetap, premannya tetap, nah itu puasa yang gagal. Kalau dalam dunia binatang tidak ada bedanya seperti puasanya ular kobra yang sedang dalam proses perubahan kulitnya. Ketika ular berpuasa, seganas apapun king cobra tapi kalau diganggu orang dia tidak pernah melawan karena sedang berpuasa, tapi setelah selesai puasa lalu berganti kulitnya maka ia kembali ke jati dirinya bahkan lebih ganas dibandingkan sebelum dia berpuasa. Banyak orang yang berpuasa dalam bulan ramadhan, tampilannya seolah-olah begitu sholeh sekali. Tidak sedikit para pejabat dadak-dadakan menjadi dermawan dengan membagikan peci, sajadah dan sorban kepada para ustadz entah uang dari APBD entah duit dari sakunya sendiri, tetapi setelah puasa yang bakhil tetap bakhil, yang malas tetap kedul, yang sombong tetap besar kepala dan arogan, yang korup tetap korup, yang preman tetap preman, dan itu namanya puasa ular kobra.

Puasa itulah yang diistilahi rasulullah dengan ungkapan rubba shoimi laisalahu min shiyamihi ilal ju, betapa banyak yang berpuasa di bulan ramadhan hanya menahan lapar dan haus saja tetapi tidak ada hasil apa-apa dalam puasanya kecuali hanya lapar dan hausnya, mereka hanya gembira puasa ketika berbuka puasa saja.

Sehingga rumah-rumah makan buka 24 jam bahkan di setiap waktu berbuka hampir setiap rumah makan itu penuh sesak, dengan menikmati berbagai jamuan makanan sampai menjelang waktu isya, entah kapan mereka melaksanakan sholat magrib dan ibadah lainnya, sehingga dengan selesainya puasa kemudian memasuki hari lebaran itu, kita malah berpenyakit,karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan lalu setelah lebaran memikirkan hutang dimana-mana akibat perayaan lebaran yang berlebihan.

Pasca idul fitri ini kita saksikan di beberapa daerah terjadi berbagai peristiwa seperti penyimpangan prilaku, kerusuhan, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya, ini menandakan bahwa puasa yang dijalaninya sebulan kemarin itu tidak memberikan dampak positif terhadap dirinya.

Oleh karena itu setiap bentuk peribadatan ini hendaknya kita orientasikan dalam rangka membangun kesholehan diri kita , kesholehan kepada Allah dan keshalehan terhadap sesama manusia.

Demikian halnya pula ibadah puasa kita bertaqarrub kepada Allah, mendekatkan hati kepada sesame manusia sehingga selesai berpuasa itu Nampak perubahan sikap dan prilaku yang lebih islami yang memberikan makna maslahat dalam kehidupan kesehariannya.

Dan kita sadari shaum kemarin itu masih banyak kekurangannya namun tetap kita berharap semoga Allah menerimanya, lebih-lebih semoga tahun depan kita diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan ramadhan untuk menyempurnakan segala kekurangan, dan benar-benar dengan shaum ini kita orientasikan untuk mencapai ketaqwaan dalam arti yang sebenar-benarnya “haqqotuqotih”, sehingga ketika kita dipanggil oleh Allah kita dalam kondisi berserah diri kepada-Nya. Amin

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright (c) 2009,2010 Beranda Masjidku. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan